Cancel Preloader

Inersia: “Penyakit Pemerintah Terhadap Seni Pertunjukan”

 Inersia: “Penyakit Pemerintah Terhadap Seni Pertunjukan”

ilustrasi: seni pertunjukan, tari kontemporer. sumber: kumparan

Kita sepakati bersama bahwa seni pertunjukan apapun bentuknya adalah media komunikasi. Ragam format dan sajian dalam seni pertunjukan adalah upaya mendekatkan diri dalam komunikasi dengan masyarakat pendukungnya.

Progresivitas seni pertunjukan yang dalam hal ini kita fokuskan pada tari kontemporer ‘Sepetik’ karya Ruki Daryudi adalah upaya pelebaran pertunjukan. Sejalan dengan pemahaman seorang antropologis ternama, Victor Turner yang dituang dalam buku Anthropology Of Performance dan Richard Schechner dalam buku Performance Theory yang mengelompokkan prinsip seni pertunjukan menjadi empat kategori, yaitu; Ritual, Seni Pertunjukan, Budaya, dan Hiburan.

Pamflet uji pablik karya seni kontemporer Ruki Daryudi

Dari kacamata media yang turut berkembang dengan kemajuan tekhnologi, karya ‘Sepertik’ dengan dasar ide dari kearifan yang tertuang pada Gurindam XII gubahan Raja Ali Haji, khususnya pasal ke-3 bait ke-4, dinilai berhasil menjangkau dunia objektif yang dihadapi manusia melalui serangkaian gerak kontemporernya yang secara kontekstual mampu mengangkat persoalan dan kegelisahan yang sifatnya kekinian.

Karya ‘Sepetik’ tidak hanya sebatas komunikasi penyadaran budaya namun juga memberikan informasi tentang kearifan lokal, khususnya mengurai makna hakikat dari bait gurindam yang dipilih.

Namun demikian, jika kita sepaham dengan hukum ke-III Isaac Newton yang mengatakan “Setiap aksi akan selalu ada reaksi yang sama besar,” maka sang pencipta karya ‘Sepetik’ akan dihadapkan pula dengan ragam respon yang sama nilainya dengan level kehadiran karya kontemporer ini.

Respon atau reaksi tersebut kita khususkan kepada ekosistem masyarakat Kepulauan Riau; Kota Tanjungpinang  khususnya dan Pemerintah terhadap seni pertunjukan.

Jika mengacu pada teori psikoanalisis Sigmund Freud, Pemerintah Kepulauan Riau masih bersifat ‘regresif’ atau lebih tepatnya ‘homeostatis’ untuk menerima kedinamisan seni pertunjukan. Sementara ekosistem masyarakatnya juga mengalami kelembapan psikis terhadap seni pertunjukan yang bersifat kontekstual.

Antara Pemerintah dan masyarakat yang sama-sama inersia itulah yang menjadi tantangan terbesar bagi pelaku seni pertunjukan untuk menggeser rotasi pemikiran maupun kebijakan yang selama ini hanya terjebak pada porosnya.

Kehadiran media yang sejalan dengan kemajuan tekhnologi, ‘mungkin’ menjadi satu-satunya solusi kepada pelaku seni pertunjukan, khususnya ‘Sepetik’ dan tim Tancker Dance Studio untuk menebar libido lebih luas kepada masyarakat pendukungnya.

Memanfaatkan media dalam menebar libido seni pertunjukan yang bersifat kontekstual adalah upaya terbaik untuk memempertahankan ‘orgasme sebuah karya’. Karena komunikasi gerak mampu menjangkau langsung dimensi rasa dari sekedar komunikasi kata.

Dengan demikian, para pelaku seni tidak lagi terjebak dengan hambatan inersianya pemerintah dalam kebijakan-kebijakan yang selama ini minim berpihak kepada pelaku seni, maupun masyarakat yang memang nyaman dengan homeostatisnya.

Yoan S Nugraha, Penulis dan Sastrawan Kepulauan Riau

Disampaikan dalam agenda bedah karya dan uji publik seni pertunjukan tari kontemporer “Sepetik” karya koreografer Ruki Daryudi di Gedung Aisyah Sulaiman Kota Tanjungpinang, Sabtu, 3 April 2021.

Penulis: Redaksi | Editor: Redaksi

BACA LAINNYA