Cancel Preloader

Sepetik Gurindam Di Panggung Tubuh

 Sepetik Gurindam Di Panggung Tubuh

Pamflet uji pablik karya seni kontemporer Ruki Daryudi

Bicara tentang kesenian tari menari, sejauh ini yang terbingkai di pikiran masyarakat hanyalah rentak irama, liuk tubuh, lentik jari dan atau kerlingan mata. Termasuk gemerlap dandanan serta kostum.

Ternyata, hakikat seni tari tidaklah sereceh itu. Buktinya, ditangan Ruki Daryudi sang dedengkot Tancker Dance Studio, seni tari di Kepulauan Riau sudah mulai naik kelas.

Dengan mengangkat tema anggota tubuh, khususnya tangan, Ruki mengurai makna yang terkandung dari Gurindam XII pasal ke-3 bait ke-4 kedalam bahasa gerak.

“Dalam hadits, disebutkan bahwa ketika tangan kanan memberikan sedekah, tangan kiri tidak mengetahuinya. Tangan kiri dalam hadits tersebut dipahami sebagai perumpamaan orang lain. Bahkan, Gurindam 12 gubahan pujangga besar Raja Ali Haji juga disebutkan, yaitu “Bersungguh-sungguh enkau memeliharakan tangan, dari segala berat dan ringan.” Nah pada gurindam inilah menjadi garis besar atau benang merah karya ini.” Ujarnya, Rabu (31/3).

Ternyata, Raja Ali Haji melalui gubahan Gurindamnya berhasil menggelitik Ruki untuk menuai makna melalui gerak tari kontemporer yang bakal dilakukan uji Pablik pada hari Sabtu (3/4) mendatang di panggung Kesenian Aisyah Sulaiman Tanjungpinang.

Ruki Daryudi, Koreografer dan pendiri Tancker Dance Studio. foto.dok-pribadi Ruki

Mengenai tari kontemporer, lebih lanjut pria brewok yang akrab disapa Tancker ini menjelaskan bahwa, tari kontemporer adalah tarian yang terpengaruh dampak modernisasi serta bersifat bebas dan tak terikat oleh pakem-pakem gerak sebagaimana pada tarian tradisional.

“Kata ‘kontemporer’ sendiri dalam KBBI berarti ‘pada waktu yang sama’ atau ‘masa kini’. Sehingga tari kontemporer dapat juga diartikan sebagai tarian yang masa kini atau trend pada saat diciptakannya. Sebuah tarian yang merefleksikan situasi pada waktu tertentu yang sedang dilalui. Dapat disimpulkan tari kontemporer itu sendiri memiliki cakuapan yang luas.” Terangnya.

Paparan Tancker sejalan dengan pakem yang dipahami oleh sastrawan dan seniman nasional Putu Wijaya. Menurut mbah Putu, sejatinya kontemporer merupakan bentuk karya seni yang mengandung arti, misi, gebrakan bahkan cukup dengan percobaan. Kontemporer berarti juga suatu usaha seniman untuk membebaskan diri dari kungkungan waktu, tempat, situasi dan nilai nilai usang (tradisi).

“Seni kontemporer tidak lebih dari pertunjukan cita rasa pembebasan berekspresi. Wujud dari seni kontemporer dapat berupa eksperimental yang merupakan suatu usaha untuk mencari idiom-idiom dan bahasa pengungkapan baru.” Papar Tancker.

Diulik lebih jauh tentang seperti apa suguhan yang bakal diuji dihadapan publik, Tancker menjawab dengan senyum seribu makna, yang bisa diartikan dengan “Saksikan saja langsung di Gedung Aisyah, seperti apa gerak Sepetik menebar makna.”

Penulis: Yoan S Nugraha | Editor: Redaksi

BACA LAINNYA